Malam… Ini merupakan puncaknya. Sebelum
jurit malam, kita ada pesta api unggun terlebih dahulu. Kita membiarkan para
peserta bersenang – senang dan menikmati hidup terlebih dahulu sebelum digempur
di Jurit Malam. Ada perform dari para peserta, dan guru – guru termasuk master
of music smanti, Mr. Ega ato biasa disebut pak Ega. Sekitar jam 10-11, mereka
kita suruh tidur.
Ini adalah suasana api unggun.
Jam 1 pagi, seluruh panitia dibangunkan
buat persiapan jurit malam. Gue dan Aulia Rahman, teman sebangku gue kalo di
kelas, jadi penjaga pos bayangan dari pos 1 ke pos 2. Sebelumnya, kita harus
menggerebeg tenda mereka terlebih dahulu. Just like the truck.
Para peserta kita suruh kumpul di lapangan.
Mereka dikasih bandrek hangat oleh panitia konsumsi buat menghangatkan badan.
Ketika mereka berkumpul, para panitia yang mengisi pos jurit malam berangkat.
Still, selama jaga pos, gue ganti – gantian tidur sama Uli karena ngantuk
banget.
Pagi – pagi setelah solat subuh, gue ikut
di pos 5 sebagai tempat share. Sebenernya gue disana cuma numpang tidur, tapi
gue masih sempet denger kisah – kisah di pos jurit malem dari sudut pandang
peserta.
Sekitar jam setengah 6, gue dibangunkan
oleh hp gue yang terus bergetar. Ada telpon. Pas gue cek, itu dari Raysa. Yak,
gue menjadi transport konsumsi lagi. Kali ini gue cuma ditemani Raysa dan Desi.
Adit masih tidur karena cape. Di saat ini pula gue menyempatkan diri memberikan
Raysa sebuah Cardigan yang gue beli hari H-1 LDK buat dia karena tanggal 8
september lalu dia ulang tahun.
Di perjalanan ini, gue ngantuk. Ngantuk
banget. Sejujurnya, gue juga takut banget buat nyetir pas lagi ngantuk to the
max gini.Tapi buat LDK ini, gue lakukan sebisa gue. Alhasil karena ngantuk
banget, gue sempet nyaris masuk jurang karena ngantuk pas lagi nyetir.
Beruntunglah kita masih selamat. Pas nyampe tempat LDK, gue kembali tidur
sejenak.
Setelah ada olahraga pagi dan games, kita
semua selesai. Sebelum pulang, kita mengadakan apel pagi dulu dan pengumuman
ketua OSIS dan MPK yang akan menggantikan Ghasani dan Andhiki yaitu Rafie
Fauzie sebagai ketua OSIS dan Abi sebagai ketua MPK.
Para ketua.
Setelah itu, kita ada sesi salam – salaman dan
foto – foto. So many photo. Dan gue punya salah satu foto yang akan selalu gue
kenang.
Finally go home. Kita semua pulang.
Semuanya baik – baik saja kecuali gue yang mengalami beberapa kejadian tidak
menarik.
At the end, ini merupakan pengalaman yang
tiada duanya di akhir jabatan gue ini. Kita semua cape, kita semua punya pengalaman
keren untuk diceritakan kepada anak cucu kita kelak. Semua punya pengalaman
menariknya sendiri di LDK kali ini.
LDK. Tahun lalu, gue menjadi salah satu
peserta yang di LDK. Sekarang gue menjadi panitia LDK OSIS MPK SMAN 3 Bogor.
Yah, ini merupakan salah satu momen akhir jabatan gue di OSIS. Kali ini, gue
merasakan LDK pada perspektif yang berbeda. Kalo tahun lalu gue merasakan jadi
peserta yang dididik, kali ini gue merasakan menjadi panitia yang mendidik. Dan
rasanya beda banget.
Kalo tahun lalu, gue capek karena tugas dan
perjalanan pas LDK, kali ini gue capek karena harus siap mobile pas hari H
(karena hari itu, mobil cuma satu dan itu mobil gue), mendidik peserta, berjaga
di pos, marah marah, dan lainnya. Kalo tahun lalu gue tegang karena dimarahi,
kali ini gue tegang karena mobil gue tidak dapat gue rawat dengan baik.
Pokoknya, kali ini beda banget.
Capek pasti kerasa banget disini karena
semua orang pasti kurang tidur. Contohnya gue, yang cuma tidur selama 3 jam
sewaktu LDK. Kerjaan gue di LDK sebenernya sekretaris, tapi gue banyak kerja di
lapangan sebagai Transport. Tapi kerjaan transport kali ini enak banget karena
ada ehm…… some great things.
First things, gue dateng pada hari H-1.
Jadi hari jum’at itu gue udah kesana. Dan pas hari itu aja gue udah cukup
pusing keliling – keliling. Ditambah malemnya gabisa tidur gara – gara aula itu
isinya orang kacau semua. Fix ini ngantuknya to the max. Padahal baru H-1.
Pagi jam 5 di hari H, gue berangkat ke
sekolah buat nganter bang jek sama ngejemput panitia (alhasil, yang ada mobil
gue malah penuh sama barang. Panitia yang ada di mobil gue cuma Azrina). Pas
jam 5 disana, gue solat dulu dan membeli beberapa makanan, apel pagi, dan
nyiapin keperluan para peserta. Di skenario, gue harus duluan nyampe di tempat
karena gue harus ngegerebeg truk peserta.
Ga lama kemudian, ada yang bilang kalo gue
harus jemput guru dan harus ngambil makanan. Di saat yang sama, gue berpikir.
Guru keluar jam 12 dan makanan harus diambil jam 9. Kalo gue bolak balik,
bensin abis. Jadinya fix, gue ngambil konsumsi jam 11 ditemani oleh……Raysa.
Yah, disinilah kerennya. Gue nyampe di
tempat konsumsi jam 12 kurang. Berhubung dari tempat konsumsi ke sekolah deket,
kita panggil guru dulu. Ternyata oh ternyata, guru yang mau ikut ada acara dulu
dan bisa dateng sore. Fix ini membuat gue sama Raysa pusing setengah mampus. Di
saat yang sama, kita mendapat titipan harus beli minyak tanah, jeruk, pisang,
dan lainnya. Kita juga harus jemput panitia yang dateng siang.
Nyampe ke tempat, tenaga gue kekuras abis.
Sumpah itu ga boong cape banget. Karena gue telah menjadi transport, panitia
yang lain setuju kalo gue ga dimasukkan ke dalam tadabur alam. Selain gue,
Raysa juga engga jadi dimasukkin ke dalam tadabur alam. Yang lebih keren, Raysa
ditemani Desi berkeliling pos – pos memberikan konsumsi kepada panitia yang lainnya.
Gue? Gue tidur selama tadabur alam di aula karena ngantuknya ga ketahan.
Sore setelah tadabur alam, gue ada tugas
ngambil konsumsi lagi. Kali ini ditemani Raysa, Desi, dan Adit. Ini adalah
pengambilan konsumsi paling lama karena di Ciawi itu ujan gede banget dan macet
banget. Kita sampai di tempat lagi jam 6 sore dan langsung solat maghrib.
Malam ini gelap banget. Termasuk kamar gue yang cuma diterangi oleh cahaya dari laptop gue.
Gelap. Semuanya gelap termasuk diri gue sendiri. Ga ada cahaya sedikit pun yang keluar dari diri gue sendiri. Biasanya malem – malem gue suka menggila entah itu ngelucu di dunia maya, ato sekedar becanda dengan ade gue, ato bahkan ngemil 2 potong ayam dan 1 piring nasi pada jam 9 malem.
Hari ini enggak. Jam menunjukkan pukul 20:07 dan kamar gue mulai gelap. Termasuk gue yang ikut gelap. Maen laptop bosen, harusnya gue ngemil tapi ga laper, dan ade gue udah tidur. Akhirnya gue memutuskan untuk iseng – iseng buka twitter sambil dengerin musik yang gue shuffle.
Akhirnya di satu sesi, ada temen gue yang ngajak smsan. FYI, ini adalah temen yang udah gue suka selama 2 tahun terakhir. Dia cerita tentang ibunda dari temannya yang baru saja meninggal. Kebetulan dia juga suka temennya yang ibunya meninggal tersebut.
Sekarang, hari gue yang tadinya gue kira bakal cerah dengan smsan sama “temen” gue, malah bikin dunia gue tambah gelap.
Ini yang ngeselin. Gimana rasanya kalo lu suka sama orang, tapi orang itu malah curhat ke lu tentang orang yang dia suka? Kata – kata F*ck past ga bisa ditinggalkan oleh kaum – kaum malang tersebut. Dan yang pasti, apa yang ada di pikiran semua cowo beda dengan apa yang dilakukan.
Contoh (diambil dari kisah smsan gue):
INBOX : Jadi gimana yang bal? Gue suka sama dia tapi dia ga ada feel ke gue.
DRAFT : Mampus lo. Ini nih karma. Selama 2 tahun lo kayak gitu ke gue. Ini nih. Sakit kan? Rasain lo.
SENT : Yaudah, lo tetep kejar aja. Someday, pasti harapan muncul kok.
#truestory
Gue masih ga abis pikir, cewe kalo belanja ga make hati nawar seenaknya. Mereka juga kalo minta perhatian dari cowo juga ga make hati minta seenaknya. Tapi mereka ber-quotes bahwa cewe melakukan sesuatu itu pake hati sementara kalo cowo pake logika. Entah ini feeling gue doang apa yang laen juga merasakan kalo quotes ini ambigu.
Gue pernah mengalami satu kejadian dimana gue suka sama cewe, dan si cewe itu juga memberi sebuah harapan balik ke gue. Di satu sesi, kita chatting dan hasilnya kayak gini:
Pada beberapa bulan kemudian, feeling itu berubah dan dia punya cowo laen.
Malam yang kelam ini diteruskan dan gue tetep smsan sama “temen” gue ini. Ketika sesi smsan gue selesai, iPod gue memutar lagu Ne-Yo – So sick yang pas banget buat gue. Akhirnya sambil beranjak ke kasur, lagu itu gue putar berulang kali.
Kata – kata indah nan unyu itu dikeluarkan oleh temen gue yang bernama Dina. 1 hal yang pasti, Dina tidak pernah mengingkari kata – katanya itu. Dia membuat dirinya selalu ada buat gue dimanapun dan kapanpun.
Dina mempunyai prinsip seperti itu. Dan dia mencoba selalu ada buat temannya. Begitu pula kepada orang yang ia suka. Dan itulah… Dia terjebak oleh prinsipnya sendiri.
Dina suka seorang cowo bernama Kenneth. Sudah berbulan – bulan dia mengagumi cowo tersebut dan kebetulan, cowo tersebut menganggap Dina sebagai teman curhat yang baik.
Suatu saat, cowo tersebut bertanya kepada Dina bagaimana caranya ngedate pertama yang baik. Dina emang tahu bagaimana caranya menjaga dan membuat image yang bagus ketika dating. Oleh karena itu, Kenneth meminta bantuan Dina.
Hati Dina tertusuk – tusuk. Selama berbulan – bulan dia mengejar cowo idamannya itu. Tetapi cowo itu sudah punya seseorang yang ia suka pula. Dan Kenneth ini bercerita segalanya kepada Dina. Orang yang menyukainya dan menyayanginya.
Kenneth menganggap Dina hanya sebagai teman dekat yang menjadi tempat curhatnya. Tetapi hati Dina menolak akan kenyataan tersebut. Dina ingin menjadi lebih dari teman dengan Kenneth. Dia ingin mendapatkan suatu tempat berharga di sisinya.
Dina terjebak dalam prinsipnya sebagai teman yang selalu ada buat Kenneth. Dan karena prinsip itu, Kenneth terus bercerita tentang seseorang yang ia suka kepada Dina. Jika ia tidak membantu Kenneth, prinsip itu telah dilanggar dan ia akan kehilangan image baik di mata Kenneth. Sementara jika ia terus membantu Kenneth dan menuruti prinsipnya, ia akan tersiksa oleh Kenneth dan curhatannya.
Dan apa yang dirasakan oleh Dina dirasakan juga oleh gue.
Gue suka seorang cewe. Selama 2 tahun terakhir ini gue berharap kita berdua bisa melewati batas ‘teman’ dan batas ‘sahabat’. Sejak dulu, gue berharap dia bisa menjadi pacar gue. Orang yang dapat menemani gue disaat gue kesepian dan tak ada satupun yang bisa gue cintai kecuali Tuhan dan Orang Tua gue.
Tapi bukan berarti gue hanya berharap tanpa ada usaha. Gue berusaha menjadi teman yang lebih dari teman buat dia. Gue berusaha memenuhi prinsip gue bahwa gue bakal ada untuk dia selama gue masih menghembuskan nafas dan menikmati dunia ini.
Sekitar bulan Desember 2009, tepat 2 tahun lalu, gue mengenal dia dan berusaha mengenal dia lebih dalam… Dalam… Dalam… Dalam sekali sampai di lubuk hatinya yang terdalam. Gue menaruh sebuah harapan manis kepadanya. Harapan yang sampai gue mengetik tulisan ini masih berlaku dan tak kenal usai.
Dan inilah yang terjadi. Dia cerita banyak tentang semuanya. Tentang orang yang ia suka, bahkan tentang pacarnya yang saat itu menjadi kekasihnya. Dia cerita ke gue sebagai temannya. Hanya teman. Gue mempersilahkan dia bercerita tentang apapun ke gue tanpa ragu karena gue sebagai cowo yang memegang prinsip itu.
Gue yang menyukai, menyayangi, bahkan mencintai dia setengah mampus harus menerima kenyataan bahwa dia suka seseorang dan itu bukan gue.
Melihat kenyataan itu, gue hanya bisa bersabar. Seorang manusia pandai menyembunyikan perasaan. Dari lubuk hatinya yang terdalam mungkin dia sakit, tapi secara fisik dia terlihat bahagia untuk menutupi kesedihannya tersebut.
Mau apa lagi? Gue ga bisa memaksakan dirinya menjadi pacar gue. Itu adalah haknya dia untuk memilih. Di saat itu gue hanya bisa pasrah dan biarkan dia bercerita. Membiarkan hati gue dikoyak – koyak dengan cara dia bercerita tentang pria idamannya.
Sampai saat ini, gue masih menjalankan prinsip itu. Kenapa? Karena gue menyayangi dan mencintainya setengah mampus.
In love, sacrifice must be made. Without sacrifice, love will not be a true love.
One time, gue sedang berada di J.co Botani Square, Bogor. Gue ditemani oleh 3 orang teman. Namanya Christie, Rizal, dan Vanya. Merekalah yang mentraktir gue donat dan kopi. Setelah 15 menit berada di sana, Rizal diajakin pacarnya pergi dan Christie harus pulang. Tersisalah gue dan Vanya.
Sebelum gue lanjut cerita, gue mau gambarin sedikit tentang Vanya.
Vanya itu tipikal manusia yang care, unyu, baik, dan suka mentraktir. Dia juga talkative dan jaim (jaga image). Sekarang dia kerja di sebuah Event Organizer. Di cerita ini, dia lagi ngambil cuti.
Dia manusia yang tinggi dan berbadan sedang (mean, ga kurus ataupun gendut). Rambutnya hitam legam sebahu. Suka banget sama Phil Collins, The Carpenters, Coldplay, dan Bruno Mars.
Baju T-shirt putih, cardigan warna gelap, jeans, dan sepatu kets putih adalah ciri khas pakaian Vanya. Kalo misalnya dia ga make sepatu, pasti bete berat. Makanya dia punya lebih dari 10 pasang sepatu kets.
Back to story.
Di J.Co, gue ditinggal berdua dengan Vanya. Mungkin kalo sutradara lewat, dia bakal ngambil kita berdua buat casting Beauty and The Beast. Mungkin kalo sutradara yang Indonesia tulen bakal bikin cerita Agnes monica and Hanoman.
Kita ngobrol banyak banget. Dari mulai kehidupan dia, kehidupan gue, coklat, makanan, sampe berat badan. Dia juga cerita kalo dia punya temen arab yang mirip kayak gue. Dia cerita kalo orang itu ngebuat dia kangen sama gue.
Setengah jam kita ngobrol tapi ujan tetep belom reda. Sick of waiting, kita ngider keliling Botani. First, kita ke XXI. Pas udah nyampe XXI, gue baru nyadar kalo udah jam 5 sore. Akhirnya kita ke Giant. Belanja.
Puas dengan berbelanja, kita pulang. Dan hujan tak menandakan bahwa ia sudah reda. Masih hujan deras. Akhirnya kita menerobos hujan yang mengguyur. Kita berdua masuk ke mobil Vanya, dan go home.
Sampai di tol, Vanya bingung karena jarak pandang pendek banget. Akhirnya kita ke rest area sentul untuk istirahat.
Vanya pernah cerita ke gue tentang hubungan dia dengan seseorang bernama Adam. Seperti ini, suasana sedang hujan deras, sedang di mobil dan beristirahat di rest area sentul. Kebetulan, tempat parkir yang sama.
Saat itu, Vanya sedang memperhatikan seorang Adam yang tengah bersandar di jok dan tidur. Vanya tak bisa berhenti tersenyum saat itu. Vanya tak bisa melepaskan pandangannya dari Adam. Entah sudah berapa kali dia bilang kepada dirinya sendiri kalo dia begitu beruntung berada di mobil itu.
Hubungan Adam dan Vanya hanya bertahan 2 minggu karena Adam merasa bosan dengan Vanya. Vanya hanya bisa merelakan Adam dan pergi meninggalkannya.
Seperti saat ini, Vanya sedang bersandar dan menutup matanya seperti yang dilakukan Adam dulu sementara gue asik dengan iPod gue. Sesekali gue melihat Vanya, ia tersenyum manis. Harus gue akui kalo dia senyum emang manis banget.
Di dalam pikirannya gue tau kalo dia emang lagi remembering about Adam. Tapi dia ga cerita ke gue. Cuma ngeliatin hujan yang masih deras di kaca mobilnya.
After a long time in rest area, kita pergi karena hujan emang udah sedikit reda dan jarak pandang sudah dalam jangkauan normal Vanya.
Bahkan sampai saat ini, Vanya tak bisa melepaskan 100% ingatan tentang Adam di pikirannya. Dan begitu juga gue yang tak bisa melepaskan kenangan manis dengan orang yang gue suka setengah mampus.
“Great love always exist in our life.” – Vanya Rena Pratiwi
Setelah dikekang 1 tahun berpisah kelas di kelas 8 (2 SMP). Gue dan Andine dipertemukan kembali di kelas 9 (3 SMP). Di kelas 9 ini, penghuni kelas dikembalikan layaknya kelas 1 dahulu. Dan saat itu, ada beberapa best moment.
First, saat beberapa minggu setelah masuk sekolah, datanglah bulan Ramadhan. At the time, beberapa anak kelas termasuk Andine mengadakan nonton bareng dan gue ikut. Saat itu merupakan salah satu saat paling “wow” karena gue bisa kumpul bareng temen, dan tentu saja Andine.
Ketika pulang, suasana gelap. Hanya kerlipan bintang dan lampu – lampu di sepanjang jalan menghiasi suasana kota Bogor. Gue dan anak – anak lainnya berpulang ke rumah masing – masing. Kebetulan, gue dan Andine searah. Biarpun sebentar, paling tidak gue bisa melihat wajahnya yang cerah.
Second, saat ingin melaksanakan UN. Di saat – saat itu, beberapa anak angkatan gue membentuk sebuah grup belajar. Dan gue termasuk orang yang membuat grup belajar. Di tengah – tengah kesibukan kita, Andine ikut dengan grup belajar yang gue ikuti. Semangat gue berkoar. Hasilnya memuaskan pada saat UN.
Last, the end of the Junior High School. Di saat perpisahan, gue tidak merasa asing. Dan satu hal, menjadi fotografer sangatlah menyenangkan. You got respect a lot. I feel happy karena menghabiskan satu hari di Bandung dan selama perjalanan, gue bertemu dia. FYI, di satu album itu, foto paling banyak adalah foto dia.
Setelah itu, semua berlalu…
Saat ini, 2 tahun setelah gue berpisah dari SMP, setelah menyimpan ribuan kenangan indah dengannya, I still can’t let her go from my mind.
Di setiap perjalanan, pasti ada tujuan, proses, dan akhir.
Sekarang, gue bakal cerita tentang perjalanan. Tapi ini bukan perjalanan mudik, pulang kampung, ato mungkin gue mau pergi ke mall. Bukan. It is a travel about love.
Saat kelas 1 SMP dulu, gue punya temen bernama Andine Notonegoro. Dia satu kelas dengan gue. Ketika pertama kali tahu, gue merasa dia hanyalah perempuan biasa seperti yang lainnya. Lama kelamaan, hal itu berubah. Change happened. Seiring waktu, gue mulai memperhatikan dia secara perlahan dan akhirnya gue menyadarinya. Dia merupakan anak yang cantik, baik, dan pintar pula. She better than what did I know.
Secara fisik, gue dan Andine kebanting abis. Jangan tanya, pokoke kebanting abis. Gue dan dia diibaratkan burung kasuari dan tikus tanah. Ini menjadi salah satu penghalang kesuksesan gue.
Di satu hari, ada pelajaran tata boga. Yak, itu pelajaran masak memasak. Dengan skill memasak gue, gue bisa meledakkan satu sekolah dengan hanya hitungan detik. Hari itu, kita membuat sebuah kue dari coklat yang dilelehkan.
Saat itu, gue memegang sebuah coklat putih. Andine dan temen – temen satu kelompoknya sedang berkumpul dan bercanda. Beberapa detik kemudian, Andine lewat di depan gue.
Sebetulnya gue ngomong dengan penuh keasalan. Pas gue liatin kelompok gue, mereka lagi pada makan. Coklat di kelompok gue emang kelebihan, jadi banyak dimintain. Akhirnya gue mengumpulkan keberanian dan memberikan sisa coklat itu kepada Andine. Saat itu, gue nyengir ga karuan karena seneng. Gue ngerasa lebih pede.
Di pertengahan bulan puasa, Gue, Gendro, Indri, Andine, Syifa, dan Prima mengadakan buka bareng. Saat itu, yang telat cuma Gendro. First, kita janjian di Hero jalan padjajaran dulu (sekarang menjadi giant), lalu baru pergi menuju tempat makan tersebut.
Hari itu gue bersyukur banget bisa buka bareng sama dia. Itu pertama kalinya gue mengadakan acara sendiri tanpa ditemani orang tua. Betul aja, gue ngerasa seneng banget karena bisa jalan bareng sama dia.
One day, gue menemukan sebuah trend baru. Yaitu friendster. Yak, itu emang dulu banget. Gue juga masih bocah ingusan dan belom ngerti apa – apa. Karena sulitnya akses internet di rumah gue, gue masih gatau cara bikin friendster dan ga ngerti apa – apa tentang friendster.
Akhirnya gue bertanya sama Andine tentang friendster. Setelah menjelaskan, gue meminta dia untuk membuatkan gue sebuah akun friendster dengan e-mail yang gue punya saat itu.
Ternyata Andine antusias banget dan membuatkan gue sebuah akun. And it happened. Gue senyum seharian. Hal yang membuat gue takut: Dikira orang gila karena senyum terus. Sayang, karena keterbatasan akses internet, gue ga bisa membukanya.
Setelah sekian lama, gue akhirnya memutuskan untuk membuat akun friendster baru. Dengan bantuan Andine, semuanya jadi jelas dan lancar. Dan dia adalah temen pertama gue dan orang yang memberikan comment pertama.
Ketika awal kelas 2 SMP, gue dan dia tidak sedekat kelas 1 dulu. Kita sibuk dengan kelas baru kita. And then, life go on.
We’re moving and keep moving by our own step. Walk by our own feet and sleep with our own dream and not for each other.
Siang berganti malam, cahaya matahari yang terang mulai tak terlihat dan digantikan oleh cahaya bulan yang dipantulkan oleh matahari. Lampu – lampu yang bersinar menghiasi rumah – rumah dan toko yang berada di setiap sudut jalan. Gua sendiri sedang menunggu abang sate padang menyelesaikan pesanan gua.
Di saat seperti ini, gua bisa berpikir jelas. Gua teringat masa lalu. Ketika gua berusaha mengejar cinta seseorang.
Ketika itu, gua mempunyai pasangan hidup. Tapi, kita berdua sedang diambang kehancuran karena sebuah kesalahan persepsi yang ditimbulkan oleh hal sepele. Tapi Tuhan memang baik, gua diselamatkan oleh sesosok manusia yang menjadi pengganti dari pasangan gua tersebut. Mari kita sebut dia Ani.
Saat itu kelas 8 berlangsung, dan friendster masih booming. Gua bertemu dengan orang ini dari friendster. Kita berkenalan, dan berusaha saling mengenal satu sama lain. Gua berusaha bersikap ramah karena ini adalah awal – awal gua mempunyai teman dari sebuah dunia maya.
Kita lalu saling bertukar nomer hp. Satu kesan yang gua ambil dari orang ini, dia baik. Kita berusaha mengenal lebih jauh, dan gua rasa, gua suka sama dia. Meskipun gua belum ketemu dengannya.
Kita menjadi teman yang dekat. Sangat dekat. Inilah sebuah cinta. Gua berasa senang dan selalu merasa ia seolah – olah berada di dekat gua meskipun kita berdua dipisahkan oleh jarak. Saat ini, gua seperti orang yang bisa merasakan sebuah es krim coklat.
Beberapa hari kemudian, gua putus dengan pasangan gua. Lalu perasaan gua ke Ani ini semakin menjadi – jadi. Gua semakin suka kepada dia. Di saat – saat ini, gua justru struggle. Akhirnya, gua mempunyai pacar. Bukan Ani tersebut, melainkan temannya. Gua justru bingung karena saat itu, gua masih lugu. Akhirnya gua lost contact dengan Ani.
Beberapa minggu kemudian, gua putus dengan pacar gua saat itu. Akhirnya gua mencoba kembali kepada Ani. Berharap gua bisa merasakan es krim coklat yang sudah beberapa minggu tidak gua rasakan. Ternyata, gue gagal. Dia sudah punya pasangan baru. Dan saat itu pula, gua merasa menyesal atas kebodohan dan keluguan gua sendiri.
3 tahun berlalu. Gua sudah mempunyai blog ini yang gua rawat sampai saat kini. Entah kenapa ketika gua masuk ke blogger, gua diem. Gua merasakan sesuatu datang dari belakang dan menepuk pundak gua. Lalu gua mengetahui apa yang beru saja menepuk pundak gua dari belakang. Kisah gua dengan Ani.
Saat ini, gua merasa kalau gua ingin merasakan kenikmatan es krim coklat yang gua rasakan 3 tahun lalu. Harus diakui, gua kangen dengannya.
Malam itu, laptop di depan gua menyiarkan film gie. I know, film itu film lama.
Selesai film itu, gua berpikir… Apa yang akan terjadi ketika gua meninggal? Apakah dunia akan mengenang gua? Atau malah dunia senang setengah mampus karena kehilangan seorang Iqbal? Itu adalah pertanyaan yang hanya akan terjawab ketika gua meninggal suatu saat nanti.
Setelah selesai itu pula, gua teringat kembali hampir seluruh kenangan dalam hidup gua. Kenangan ketika gua masih kecil sampai sebesar sekarang.
Gua ingat sekali, ketika gua masih sangat kecil, gua tinggal di Jakarta. Pekerjaan gua setiap malam adalah melihat kereta malam yang lewat di stasiun Cawang. Dulu gua tinggal di daerah tebet sebelum gua pindah ke Bogor. Gua ingat ketika dulu gua TK, gua diajar perkalian, gua tidak bisa, bokap gua marah tiada tara, gua hanya bisa menangis dan meminta pertolongan nyokap gua.
Banyak kenangan – kenangan berenang – renang di pikiran gua. Seperti ketika ditanya bule Finlandia “Dimana Toilet?”, lalu gua menunjukkan dimana toilet pria dan dia salah masuk ke toilet wanita. Dan ketika gua dan pasangan hidup gua melihat sebuah anak bule terjatuh dan menabrak sebuah tong sampah di XXI Botani Square. Ada kisah juga ketika gua diteror banci – banci kalengan di jalan yang membuat gua mengeluarkan keringat dingin. Semua terkenang di kepala gua. Seakan mereka menari – nari dan menghiasi pikiran gua yang benar – benar kosong saat itu. Itu merupakan entertainment yang bagus. Sebuah Flashback yang dapat membuat gua mengais – ngais tanah karena ingin mengulang kejadian itu.
Akhirnya gua mengambil walkman yang sudah selesai gua charge. Lagu Bruno Mars – Just the way you are dan lainnya menemani malam gua tersebut.
Dulu, ketika gua menemukan pasangan hidup pertama gua, dia selalu mengucapkan good night setiap malam. Menyuruh gua sikat gigi dan cuci kaki sebelum tidur. Menyuruh gua mengerjakan tugas setiap gua punya tugas. Gua ingin kembali ke masa itu, dimana dia sangat memperdulikan kehidupan gua dan gua memperdulikan kehidupannya. Gua juga ingat ketika gua berada di bis, satu bangku dengannya, dia menyuruh gua mendengarkan sebuah lagu indah lewat headset yang membuat gua tertidur ketika berada di bis dan di sampingnya. Dia juga pernah membelikan gua bunga mawar merah 6 batang (kalau tidak salah) yang gua tidak tahu untuk apa dan apa maksudnya. Kenangan – kenangan itu benar – benar membekas di kepala gua dan menghiasi pikiran gua malam itu. Gua ingin sekali membuatkan susu untuknya seperti saat gua berada di rumahnya di suatu hari yang indah.
Ketika gua mempunyai pasangan hidup, dia pernah berkata kepada gua, “Gua mau kayak gini seterusnya.” Gua pun sampai saat kini masih bertanya – tanya. “Apakah saat ini semua bisa menjadi seperti dulu? Seperti saat gua memiliki kenangan manis dengannya.”
Malam itu, seluruh kenangan menghiasi pikiran gua. Seluruh kenangan dari kecil hingga sekarang. Kenangan pahit maupun kenangan manis. Malam itu, gua tidur dengan keadaan yang sedikkit berbeda. Penuh dengan kenangan – kenangan.
Di suatu hari, gua duduk di sebuah bis ekonomi. Gua ga bisa berpikir lurus. Pikiran gua bercabang. Kesana kemari tak jelas. Akhirnya gua melihat – lihat keadaan sekeliling gua. Sang pedagang – pedagang berjualan di terminal dan di bis, para salesman mempromosikan barangnya, para kondektur menghitung uang, para supir bis sedang diam di kursinya sambil merokok. Akhirnya gua terdiam…
Di sela – sela ketika gua diam, sms dari operator menarik perhatian gua. Iklan tak jelas itu langsung gua delete. Sebelum gua menaruh hp kembali ke habitatnya (kantong), gua kembali terdiam. Setelah diam beberapa detik, barulah gua taro hp gua tersebut balik ke habitatnya.
Gua diam, tetapi kali ini berpikir.
Gua berpikir about “love”.
Terlihat di sekeliling gua ada 3 pasangan hidup yang gua liat. Pertama, ada suami istri yang berumur lanjut (Tua bagi yang tidak tahu maksudnya apa). Kedua, gua liat ada pasangan berumur 20an mungkin sedang berpacaran di sudut kanan belakang bis. Yang ketiga, tepat di belakang gua ada sepasang anak SMA yang sedang bercanda seperti orang pacaran.
Gua kembali kepada posisi awal kemudian kembali berpikir. Gua melihat keluar jendela, terlihat banyak penumpang yang ingin naik ke bis tujuannya.
Tak lama kemudian, bis mulai jalan.
Pada saat itu, gua kembali berpikir about “love” yang membuat pikiran gua bercabang layaknya akar pohon kelapa yang berbentuk serabut.
Sebuah kisah datang ke bayang – bayang pikiran gua. Kisah beberapa bulan lalu kembali terungkap. It’s a flashback…
Gua teringat kisah ketika gua berjalan – jalan dengannya, seorang wanita jelita yang telah membuat hidup gua menjadi lebih bersemangat. Dialah yang berada dalam mimpi gua ketika gua tertidur di sebuah tes masuk SMAN 3 Bogor (saat itu, tes bahasa Inggris kalo tidak salah). Dia sedang mencoba parfum – parfum yang ada di sebuah supermarket. Sesekali gua melihatnya mencoba – coba berbagai parfum. Gua pengen banget menyarankan dia untuk membeli baygon. Selain untuk parfum, itu juga bisa untuk mengusir nyamuk dan mengusir kehidupan seorang manusia.
Di sela – sela kejadian itu, gua berpikir bahwa dunia terkadang tidak adil buat gua. Kenapa Tuhan menciptakan orang seperti dia? Cantik, rajin, pintar, fashionista, baik, taat kepada agama, friendly, etc. Tuhan terkadang bisa tidak adil juga.
Seusai ia memilih parfum, ia langsung menuju ke kasir. Gua meminta izin untuk membeli sebuah makanan. Gua membeli coklat silverqueen. Hasrat ingin memberi sebuah kenangan manis untuknya menghiasi pikiran gua. Setelah bayar, gua berpikir untuk memberinya hadiah manis. Gua ingin memasukkan coklat silverqueen yang gua beli tadi ke dalam tasnya diam – diam. Namun niat tersebut gua urungkan. Tak sadar bungkus coklat tersebut sudah gua kelupas. Entah kenapa gua melakukan hal itu. Mungkin karena gua kelaparan.
Akhirnya kita pulang. Gua, dia, dan temannya yang dia bawa sejak pertemuan itu berjalan mengarungi Botani Square Bogor dari supermarket tadi ke pintu keluar. Sesekali gua melihat wajah jelitanya.
Saat di luar, gua berpisah dengannya. Gua menyempatkan diri menatap dirinya. Dan gua menarik kesimpulan, wajahnya terlihat lebih cerah. Mungkin karena suasana sudah menjelang maghrib.
Selama perjalanan pulang, gua tidak bisa berhenti tersenyum.
Saat itu, gua teringat hukum newton ke-3 (sedang school addicted)
Jika kita memberikan aksi pada suatu benda, maka benda tersebut akan memberikan reaksi kepada kita.
Gua telah memberikan rasa sayang kepada gadis cantik jelita tersebut. Hanya saja, gua tidak tahu apa reaksi yang akan dia berikan kepada gua.
Siang itu gua duduk terdiam di sebuah bis yang ber-AC. Hujan turun dengan lebat membuat suasana cozy, dingin, dan sejuk.
Hari itu, pikiran gua kosong.
Disaat pikiran gua kosong, gua bisa mengingat segala hal lebih jelas. Dan pikiran gua saat itu tertuju pada satu hal.
Gua kenal sebuah perempuan cantik jelita bernama Vivi Sofia. Dia merupakan teman yang lebih dari teman. Gua kenal dia awal Desember 2009 lalu. Gua kenal dia dari sebuah situs bernama Facebook.
Satu ketika, kita sudah tukeran nomer HP. Malam itu gua berniat menghabiskan malam bersama HP gua yang terus didatangi sms dari dia. Kita smsan sampai hampir tengah malam.
Di akhir messaging tersebut, dia sms:
‘Iqbal, boleh gua pajang nama lu di status?’
Gua bales singkat:
‘Boleh aja. Hehe’
Gua tertidur.
Paginya ketika gua berniat membuka Facebook, gua lihat statusnya:
‘Iqbol seru ih..’
Sejak itu, gua punya panggilan ‘Iqbol’. Dan sejak itu pula, gua tertarik dengannya.
Di sebuah hari nan kosong, gua terdiam di tempat les gua. Iseng – iseng membuka Facebook tak bermasalah mungkin. Lalu, gua membuka Facebook dan melihat Profile Vivi Sofia. Disitu tertulis jelas status relationshipnya. ‘In a relationship with .............’
Gua ga berani lihat lebih lanjut ke bawah. Saat itu, gua langsung menutup HP dan duduk di pojokan. Keadaan gua yang sedang sedih + bored + sakit hati itu sempat ditanya oleh guru gua. Gua ga berani menjelaskan keadaan gua tersebut. Tidak lama kemudia, sebuah sms sampai di HP gua. Disitu tertulis jelas pengirimnya:
Vivi Sofia
Saat itu gua smsan dengan dia dengan keadaan low-mood. Alhasil, smsan dengan dia hari itu kurang berkesan.
Beberapa hari kemudian, ketika gua hendak naik bis, HP gua berbunyi pertanda ada sms. Vivi sofia adalah pengirim sms tersebut.
Di dalam percakapan tak langsung tersebut, gua berani mengungkapkan hal yang sesungguhnya. Gua cemburu sama dia. Dia bilang dia terharu. Entah itu jujur, atau mungkin hanya bualan belaka agar gua menjadi senang.
Hari demi hari berlalu. Dia putus dengan pacarnya itu. Sekarang dia single. Kedekatan gua dengannya bertambah. Di suatu saat, rasa suka gua kepadanya bergejolak melebihi batas normal. Dan ketika itu, gua sudah melaksanakan UN, dan Ujian masuk SMA. Saat itu, gua diterima di SMAN 3 Bogor.
Hari itu, saat beberapa hari menjelang pembagian SKHUN, gua membuka Facebook. Di headline, terpampang jelas sebuah berita.
‘Vivi sofia is in Relationship with ....................’
Hari itu, saat itu, jam itu, menit itu, detik itu, gua merasa kiamat sudah datang. Sebuah kejadian unpredictable datang dan menghujam sebuah perasaan suka dicampur kagum dengan sebuah berita dengan berat layaknya ikan paus biru dan keras seperti sebuah baja. Perasaan gua hancur lebur seperti debu.
Komputer yang berada di depan gua ingin sekali gua bakar. Gua sempat terjatuh dari kursi yang gua duduki saat itu karena perasaan kecewa, dan hancur.
Saat itu, gua langsung mematikan komputer dan tidur untuk melupakan semua rasa sakit yang gua alami saat itu. Gua terdiam membisu selama beberapa hari. Mengasingkan diri dari dunia luar dan dunia maya.
Datanglah bulan Januari 2011. Itu berarti, gua sudah 1 tahun lebih dekat dengan seorang perempuan jelita bernama Vivi.
Waktu telah berlalu. Hubungan gua dan Vivi membaik. Kita telah melupakan masa – masa pahit yang telah kita lewati berbulan – bulan lalu. Sekarang kita mencoba untuk berteman yang baik tanpa masalah. Kita mencoba untuk menghargai satu sama lain agar tidak timbul perpecahan di antara kita.
Saat itu, seperti yang biasa kita lakukan setahun yang lalu, kita smsan sampai larut malam. Hanya saja, tidak selarut ketika satu tahun yang lalu.
Di satu sesi, dia bertanya:
‘Iqbal, kenapa lu engga ninggalin gua? Kenapa lu terus pengen deket sama gua? Padahal gua kan sering bikin lu sakit hati.’
Gua bales:
‘Karena gua udah terlanjur suka setengah mampus sama lu, vi.’
Lalu dia bales lagi:
‘Jujur bal, lu tuh cowo yang deket paling lama sama gue. Jujur gua pengen banget lu masih deket sama gue.’
Kata – kata tersebut berputar di sekeliling gua.
Hari ini, 27 Januari 2011 yang bertepatan dengan hari Kamis. Gua ada acara kumpul dengan temen – temen gua. Gua juga mengajak Vivi buat bergabung. Kita niatnya berkumpul di Taman Koleksi IPB. Gua dateng pertama.
Ketika gua sedang diam menunggu Vivi dan temen gua yang laen, seorang mahasiswa IPB menginterogasi gua karena gua seorang anak SMA. Ketika itu, gua juga melihat banyak anak SMA lainnya.
Saat interogasi berlangsung, Vivi dan temen deketnya dateng. Karena gua sedang diinterogasi, gua sedikit kagok. Beberapa saat kemudian, gua masih diinterogasi. Tetapi kali ini temen gua berdatangan. Itu membuat gua makin kagok.
Gua udah selesai diinterogasi, lalu gua ngobrol sebentar dengan Vivi. Ternyata dia sudah mau pulang. Hal ini ngebuat gua sakit hati. Hal yang telah direncanakan tapi tidak berjalan dengan baik.
Malam ketika gua nyampe rumah, rasa sakit hati gua begitu bergejolak. Emosi tidak stabil. Akhirnya timbullah sebuah kontroversi dengan Vivi. Karena tertekan, gua mencoba minta maaf kepada Vivi. Dia tidak memberikan respon. Saat itu gua ngerasa bersalah dan tidak bisa memaafkan diri gua sendiri.
Pada malam yang mencekam seperti itu, gua mencoba menenangkan diri dengan lagu love will find a way yang ada pada film lion king 2. Hal itu bukannya membuat gua tenang, justru membuat gua semakin sedih.
Gua teringat kembali kata – kata seorang Vivi kepada gua.
‘Jujur gua pengen banget lu terus deket sama gua’
Satu hal yang harus dia ketahui.
Gua juga pengen terus dekat dengannya. Tetapi tidak seperti ini. Gua pengen terus dekat dengannya. Tanpa masalah.